Jakarta, SatuRakyat – Permukaan bulan sekali lagi menjadi saksi kehadiran Amerika Serikat. Hal ini menandai momen bersejarah ketika pesawat ruang angkasa milik swasta, Odysseus, berhasil mendarat di bagian kutub selatan bulan.

Meskipun ada kegembiraan seputar apa yang disebut NASA sebagai “lompatan besar ke depan”, tidak ada konfirmasi langsung mengenai status atau kondisi pendaratan. Namun NASA menjamin bahwa pendaratan telah mencapai lokasi di kawah Malapert A.

Manajer Intuitive Machines, perusahaan di balik pencapaian ini, sedang berupaya menjalin komunikasi penuh dengan Odysseus. Pencapaian pada hari Kamis itu memiliki tingkat keberhasilan sebesar 80% menurut Steve Altemus, pendiri perusahaan.

Peluncuran ini sebagai peresmian era baru eksplorasi bulan, bersamaan dengan rencana NASA untuk misi manusia ke bulan yang akan datang pada akhir tahun 2026. Pendaratan pukul 17.23 dikonfirmasi setelah 10 menit hening di radio. Steve Altemus menyambut dengan mengatakan, “Selamat datang di bulan.”

Ini menandai pendaratan pertama pesawat ruang angkasa buatan AS, sejak misi Apollo 17 NASA pada bulan Desember 1972. Selain itu, ini adalah kunjungan perdananya dengan kendaraan komersial setelah kemunduran Peregrine One.

Bill Nelson, administrator NASA, menyatakan pentingnya momen tersebut, menyatakan, “Hari ini, untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, Amerika telah kembali ke bulan. Hari ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, sebuah perusahaan komersial, sebuah perusahaan Amerika, meluncurkan dan memimpin penerbangan ke sana. Sebuah pencapaian luar biasa. Odysseus telah mengambil bulan. Prestasi ini merupakan lompatan besar bagi seluruh umat manusia.”

Meskipun tidak ada rekaman video pendaratan otonom Odysseus, kamera buatan mahasiswa Embry-Riddle Aeronautical University Florida, berhasil menangkap gambar sesaat sebelum mendarat. Kamera NASA juga siap memotret permukaan bulan dari pesawat luar angkasa.

Pendarat Nova-C, sebuah pesawat heksagonal berkaki enam berukuran 14 kaki (4,3 meter), adalah bagian dari inisiatif Commercial Lunar Payload Services (CLPS) NASA. Misi IM-1, adalah membawa peralatan ilmiah untuk mengumpulkan data tentang lingkungan bulan. Lokasi pendaratan di wilayah berbatu bertujuan untuk mendukung misi Artemis III berawak NASA, pada dua tahun yang akan datang.

Meskipun medannya berbahaya, potensi air beku yang berlimpah penting untuk misi bulan dan Mars di masa depan. Bill Nelson menjelaskan tujuan misinya adalah mengeksplorasi keberadaan air, yang penting untuk menghasilkan bahan bakar roket.

Odysseus yang bertenaga surya memiliki masa operasional selama tujuh hari. Para ilmuwan berharap dapat menganalisis reaksi tanah bulan terhadap dampak pendaratan. Instrumen yang ada juga akan mempelajari efek cuaca luar angkasa pada Permukaan bulan.

Bill Nelson menekankan pentingnya misi ini untuk program Artemis NASA, bertujuan kembali ke bulan serta misi ke Mars dalam dua dekade mendatang. Amerika sedang bersaing dengan Rusia dan Tiongkok, demi mempertahankan kepemimpinan dalam eksplorasi ruang angkasa.

Menyusul kesuksesan Jepang bulan lalu dengan Smart Lander for Investigating the Moon (Slim), Amerika sekali lagi memperkuat kehadirannya di bulan.

Baca Juga : Peluncuran Satelit Merah Putih 2 Era Baru Indonesia