Jakarta, SatuRakyat – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan tegas menolak persyaratan gencatan senjata yang diusulkan Hamas.

Ia menekankan bahwa satusatunya solusi adalah “kemenangan mutlak” atas Hamas. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak usulan gencatan senjata dengan menyatakan bahwa pertempuran ini diperlukan untuk mengalahkan Hamas. Israel Defence Forces (IDF) akan memulai operasinya di kota Rafah, Gaza selatan.

Pejabat Hamas Osama Hamdan mengatakan penolakan Netanyahu adalah untuk melakukan “genosida” warga Palestina. Ia juga mengumumkan bahwa delegasi Hamasyang dipimpin oleh pejabat senior Khalil alHayyaakan melakukan perjalanan ke Kairo pada hari Kamis, demi melanjutkan negosiasi bersama Mesir dan Qatar.

Konflik Israel-Palestina Paling Mematikan

Konflik yang sedang berlangsung saat ini adalah konflik paling mematikan selama sejarah konflik Israel-Palestina. Perang ini telah mengakibatkan lebih dari 27.000 warga Palestina menjadi korban, kondisi lingkungan hancur lebur, pengungsian massal, dan wabah kelaparan. Petinggi PBB memperingatkan akan adanya “nyawa melayang dalam jumlah besar” atas potensi serangan darat Israel di Rafah.

Netanyahu mengatakan bahwa tidak ada wilayah di Gaza yang “kebal” dari serangan Israel. Sebelumnya, Anthony Blinken, Menteri Luar Negeri Amerika, sesudah ia bertemu Netanyahu , mengakui bahwa masih banyak hal perlu dilakukan dalam menengahi konflik Israel-Hamas. Ia menambahkan masih ada sedikit harapan untuk melakukan negosiasi mengenai para sandera.

Hamas telah mengajukan rencana tiga fase sebagai jawaban atas proposal gencatan senjata bersama Amerika, Israel, Qatardan Mesir. Rencananya ialah, gencatan senjata selama 135 hari, penukaran sandera Israel-Palestina, dan berakhirnya perang.

Blinken dalam kunjungannya yang kelima, bertujuan untuk melancarkan proposal gencatan senjata juga membantu menormalisasi hubungan antara Israel-Arab Saudi, sebagai hasil dari “jalan yang jelas dan kredibel dalam waktu menuju pembentukan negara Palestina.”

Penentangan oleh Netanyahu akan dibentuknya negara Palestina juga menjadi tantangan tersendiri mengenai penyelesaian konflik secara damai. pembebasan tahanan Palestina termasuk para militan garis keras juga menjadi hal yang menyulitkan negosiasi tersebut.

Baca Juga : Mantan Presiden Duterte Ancam Memisahkan Mindanao dari Filipina