Adolfo ‘Fito’ Macías, “penjahat paling terkenal” di Ekuador dan pemimpin kartel narkoba Los Choneros yang kuat, menghilang pada hari Minggu (07/01) hari dari sel penjaranya hanya beberapa jam sebelum dia dijadwalkan untuk dipindahkan ke fasilitas dengan keamanan maksimum.

Hilangnya Macías dan kekerasan yang dilakukan oleh anak buahnya telah membawa Ekuador kepada kekacauan yang disebabkan oleh penculikan dan kekerasan geng yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir dan disebut oleh Presidennya digambarkan sebagai “perang” habis-habisan.

Macías 44 tahun, merangkum perjuangan Ekuador baru-baru ini melawan kartel tersebut. John Henry Murdy, seorang mahasiswa doktoral di Universitas Chicago yang mempelajari geng dan penjara di negara tersebut, mengatakan kepada The Daily Beast bahwa Macías menjalankan aktivitas geng dengan lancar dari balik jeruji besi menggunakan ponsel selundupan, dan dilindungi oleh sesama narapidana yang bersenjatakan senapan serbu.

Fasilitas tempat Macías dipenjarakan di Guayaquil, seperti fasilitas lainnya di Ekuador yang dikuasai geng, tidak berfungsi sebagai penjara pada saat dia melarikan diri. Saat berada di sana, Macias membangun kolam renang, menyelinap ke tempat pacarnya selama seminggu (berhasil melobi agar pacarnya dibebaskan ketika ditangkap), dan bahkan berpose di depan kamera untuk ditampilkan dalam video musik profesional untuk lagu yang dinyanyikan oleh putrinya.

Dalam video musik tersebut, dan foto-foto terbaru lainnya yang menunjukkan pemimpin geng tersebut, Macías tampak kelebihan berat badan – sebuah tanda lain bahwa penjahat paling terkenal di Ekuador, yang diyakini berada di balik pembunuhan calon presiden anti-geng Fernando Villavicencio tahun lalu, tampak seperti sedang berlibur di dalam “penjara”

Kini setelah bebas (pihak berwenang Ekuador tidak mengesampingkan bahwa ia masih bersembunyi di suatu tempat di penjara Guayaquil), anak buah Macias telah mendorong Ekuador menjadi negara militer, dengan sebuah dekrit yang dikeluarkan pada hari Selasa (09/01) yang pada dasarnya menempatkan Ekuador di bawah darurat militer, kata Mordi.

Gambar yang diterbitkan oleh media lokal menunjukkan tentara mengambil alih pusat kota di dua kota terbesar, Quito dan Guayaquil, dan melakukan hal yang sama di penjara mereka, tempat kerusuhan terjadi. Negara berpenduduk 18 juta orang ini sekarang memberlakukan jam malam tanpa batas antara pukul 23.00 hingga 05.00 pagi waktu setempat.

Kepolisian Nasional Ekuador mengumumkan pada hari Rabu (10/01) bahwa lebih dari 100 penjaga dan staf penjara disandera, dan lebih dari 36 narapidana telah melarikan diri dari sel tahanan. Mereka menambahkan bahwa dua petugas polisi tewas di provinsi Guayas, yang mencakup kota Guayaquil, dan tujuh lainnya diculik.

Bus-bus umum dibakar minggu ini dan jembatan penyeberangan rusak akibat ledakan, namun mungkin aksi kekerasan yang paling menarik perhatian terjadi ketika hampir selusin anggota kartel mendobrak masuk ke studio TC TV saat studio tersebut sedang siaran langsung pada Selasa (09/01) sore.

Para anggota kartel tersebut menodongkan senjata kepada para jurnalis dan memaksa mereka ke untuk tiarap, sementara jeritan dan suara tembakan terdengar di latar belakang. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun seorang juru kamera tertembak di kaki dan dibawa ke rumah sakit.