Jakarta, SatuRakyat – Dalam sesi di hadapan Kongres, Mark ZuckerbergCEO Meta, menyatakan penyesalannya kepada orang tua korban pelecehan di media sosial. Penyesalan tersebut datang ketika sidang senat mengenai pelecehan terhadap remaja dan anakanak. CEO Meta, X (sebelumnya Twitter), TikTok, Snap, dan Discord menghadapi pertanyaan mengenai dampak platform mereka terhadap anakanak.

Zuckerberg meminta maaf ketika para orang tua membagikan foto anakanak mereka yang mengalami pelecehan di media sosial. “Saya minta maaf atas semua yang telah Anda lalui,” kata Zuckerberg. Dia menjanjikan upaya untuk mencegah insiden semacam itu juga meningkatkan keamanan pengguna.

Evan Spiegel, CEO Snap Inc, menyampaikan belasungkawa serupa, ditujukan kepada para orang tua yang anaknya mengakses narkoba di Snapchat. Lebih dari 60 orang tua telah mengajukan gugatan pada akhir tahun 2023, mengatakan Snap berperan untuk anak anak mereka bisa mengakses narkoba.

Sidang kongres bertajuk “Teknologi Besar dan Krisis Eksploitasi Seksual Anak Online”. Sidang tersebut dihadiri para eksekutif termasuk Linda Yaccarino (X), Shou Zi Chew (TikTok), dan Jason Citron (Discord).

Terlepas dari penyesalan para CEO, pernyataan pembukaan oleh Zuckerberg memicu kritik. Dia mengklaim, “Penelitian yang ada belum menunjukkan sebab akibat antara penggunaan media sosial dan generasi muda yang memiliki kesehatan mental buruk”. sementara itu senator Josh Hawley menolak pernyataan itu..

Dalam pidato pembukaannya, Senator Dick Durbin mengatakan eksploitasi seksual anak secara online sebagai “krisis di Amerika”. Dia menyalahkan platform media sosial. Zuckerberg mengatakan bahwa Meta telah mengeluarkan $20 miliar dalam keselamatan dan keamanan sejak tahun 2016.

Anggota Kongres mengusulkan solusi legislatif, dengan mengedepankan Undang-Undang Keamanan Daring Anak. Snap Inc bersama X mendukung RUU tersebut, sementara itu eksekutif Discord, TikTok, juga Meta menolak dukungan langsung, sehingga memicu kritik Senator Graham.

Saat sesi berlangsung, para CEO menghadapi pengawasan ketat atas upaya platform mereka untuk mengatasi masalah keselamatan anak secara online, sehingga membuat lanskap peraturan di masa depan menjadi tidak pasti.

Baca Juga : Seorang Warga Italia Dirantai Pengadilan Hungaria