Jakarta, SatuRakyat – Serangan udara menargetkan sebuah sekolah di Karenni Tenggara, Myanmar, empat orang siswa tewas beserta 15 lainnya luka-luka. Para korban semuanya adalah anak laki-laki berusia 12-14 tahun, mereka adalah para siswa disekolah desa Daw Si Ei, yang memuat sekitar 200 siswa dioperasikan oleh masyarakat setempat serta mantan guru dari pemerintah.

Serangan itu terjadi pada Senin pukul 10 pagi waktu setempat, ketika sebuah pesawat diikuti jet tempur terbang diatas desa. Saksi melaporkan bahwa para siswa berusaha lari kedalam bunker ketika serangan terjadi. Dua anak lainnya dalam kondisi kritis, setelah setelah mengalami luka kepala dan perut.

Ibu salah satu korban, Hay Blute Moo mengatakan “anak-anak saya ketakutan sehingga mereka bersembunyi di bawah tempat tidur dan menangis setelah kabur dari serangan udara, terutama yang paling bungsu. Dia memelukku dan menangis sangat lama.”

Seringkali Terjadi Serangan Udara di Wilayah Sipil

Masyarakat Myanmar biasanya membuat bunker untuk melindungi diri dari serangan udara oleh militer. Meskipun telah dilakukan tindakan pencegahan, serangan udara banyak membuat sekolah menjadi hancur serta membuat daerah sekitar rata dengan tanah.

Sejak kudeta militer 2021, militer Myanmar menghadapi perlawanan menggunakan serangan udara dan taktik bumi hangus untuk menekan oposisi. Di sisi lain, laporan menunjukkan adanya riwayat serangan yang sengaja menargetkan wilayah sipil, seperti sekolah, rumah sakit, juga tempat ibadah.

Sementara Junta sendiri belum mengeluarkan pernyataan apapun, media afiliasi Junta terlebih dahulu membantah laporan mengenai serangan udara tersebut. Pada bulan Januari, PBB menyoroti strategi militer yang secara rutin menargetkan tempat-tempat dilindungi hukum humaniter internasional, seperti sekolah dan fasilitas medis. Warga sipil seringkali hanya mendapatkan sedikit peringatan atau bahkan tidak sama sekali.

Daerah bagian Karenni telah menjadi medan pertempuran sejak meningkatnya ketegangan antar militer dan kekuatan pro-demokrasi. Maw Lay, yang kehilangan putranya dalam serangan udara mengeluhkan. “Saya sangat sedih, tapi saya tidak bisa melakukan apapun selama perang… bahkan jika militer menargetkan rumah saya.”

Seorang guru yang ada dilokasi selama insiden mempertanyakan alasan militer dengan mengatakan, “Sekolah kami jauh dari konflik dan tidak ada tentara lawan yang tinggal disini. Ini adalah tempat siswa tidak bersalah belajar.”

Dalam serangan udara lain di desa Loi Nan Hpa, seorang penduduk desa yang bekerja dekat sekolah kehilangan nyawanya, juga seorang guru kehilangan satu kakinya akibat serangan udara.

Kelompok HAM Karenni, mengutuk serangan tersebut, menuduh junta militer dengan sengaja menghancurkan infrastruktur sipil dan tempat perlindungan bagi pengungsi Karenni.

PBB mencatat lebih dari 554 warga sipil tewas semenjak Oktober dengan lebih dari 1.600 korban jiwa pada tahun 2023. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya. Selain itu, menurut PBB ada sekitar 19.973 orang ditahan karena alasan politik.

Baca Juga : Pasukan AS Melumpuhkan Ancaman Rudal Houthi di Laut Merah