
Jakarta, SatuRakyat – Kejadian, tragis di Pondok Pesantren Al-Ishlahiyah Desa Kranding, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, santri bernama Bintang Balqis Maulana (14) ditemukan tewas dengan dugaan kuat mengalami penganiayaan oleh santri senior. Empat tersangka, termasuk seorang santri senior bernama AF alias FTH (16), telah ditangkap terkait insiden ini.
Pengakuan Pelaku Mengguncang Hati: Bintang Dianiaya karena Sulit Diatur
Pengakuan dari salah satu tersangka, AF, mengemuka ketika warga menanyai alasan di balik perbuatan tersebut. AF mengaku bahwa penganiayaan dilakukan karena Bintang dianggap sulit diatur. Menurut AF, Bintang dinilai kesulitan untuk melaksanakan kewajiban seperti salat dan ngaji, sehingga mereka memutuskan untuk melakukan tindakan kekerasan terhadapnya.
Ibu Korban Meratapi Kehilangan: “Kok Setega Itu Melakukannya”
Suyanti, ibu dari korban, dengan kesedihan yang mendalam menyampaikan pengakuan tersebut kepada publik. Ia menirukan perkataan AF yang menyebut bahwa Bintang harus dipukuli karena dianggap sulit diatur dalam hal ketaatan beragama. Sang ibu mengungkapkan keheranannya atas tindakan kejam tersebut, merasa bahwa kesalahan anaknya tidak sebanding dengan nyawanya.
Panggilan untuk Keadilan: “Mohon Ini Diusut Tuntas”
Dalam keputusasaan dan kepiluan, Yanti berharap agar hukum dapat ditegakkan dengan adil. Ia mendambakan keadilan untuk anaknya dan berharap agar peristiwa semacam ini tidak terulang pada santri lainnya. Yanti menyuarakan harapannya agar penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dan transparan, memohon agar kejadian tragis ini tidak berulang di masa mendatang.
Misteri di Sekitar Kejadian: Diamnya 15 Santri dan Sikap Pondok Pesantren
Meskipun Yanti telah mencoba menerima kepergian anak bungsunya, ia meminta agar penegak hukum dapat bertindak tegas dan mengungkap seluruh fakta yang terkait dengan kasus ini. Sang ibu juga menyampaikan keheranannya terkait dengan sikap sejumlah santri yang saat itu berada di sekitar tempat kejadian. Ia bertanya mengapa mereka tidak melaporkan insiden tersebut kepada pihak pondok pesantren. Hingga saat ini, Yanti merasa kecewa karena pihak pondok tidak menunjukkan sikap belasungkawa ataupun duka cita terkait kejadian tersebut.
Panggilan untuk Keadilan: Mengusut Tuntas Kasus Kekerasan di Pondok Pesantren
Bintang Balqis Maulana meninggalkan dunia pada Jumat (23/02) dengan kondisi jasadnya terbungkus kafan dan darah yang masih bercucuran. Kasus ini menyoroti masalah kekerasan di lingkungan pondok pesantren, dan masyarakat berharap agar pihak berwajib dapat mengusut tuntas kasus ini untuk menghadirkan keadilan bagi korban dan keluarganya.
Baca Juga : Satelit Korea Utara Berhasil Meluncur Untuk Pertama Kalinya